Rabu, 28 Agustus 2013

Kau belum pernah hadir dalam sketsa mimpiku Namun kau sudah tercatat sebagai belahan jiwaku jauh sebelum kita terlahir ke dunia Aku tak mengenalmu Begitu juga kau yang belum tentu mengenalku Namun aku percaya, kau titipan Tuhan untukku. Kelebihanmu, mendecak kekaguman dalam hati memaksaku tuk melafadzkan tahmid cinta kekuranganmu, cermin bagiku yang membuatku sadar, kita hanyalah manusia biasa yang punya salah dan alpa Aku tak memilihmu, namun Allah yang pilihkan dirimu untukku Maka, mari kita sinergikan potensi, lejitkan semangat dan ciptakan karya-karya bersama Hingga saatnya kelak.. Lahirkan generasi robbani yang cinta Al-Quran kita berjuang tuk membina generasi pembaharu yang nafasnya dzikir, lafadznya quran, akhlaqnya Rasulullah tidurnya ibadah, hidupnya ma'rifat, matinya syahid

Jumat, 02 Agustus 2013

nusantara

Hamparan sejarah tersusun tanpa kata Pada patriot yang gugur tak sempat kutitipkan doa Sajak nasionalisme terkikis di tiap sudut kota Riuhnya hanya sebatas suka Wajah-wajah miris, menangis tragis Mencari warna emas di pelosok negeri, kami pun berderai lagi Saatku dulu, bumiku terhampar padi yang sekuning itu Saatmu kini, terpapar gedung tinggi mencengkeram bumi Nusantara telah berganti Wajahnya tak sepolos zamanku tempo itu, memang telah terpoles sebuah reformasi Entah seperti apa pun topeng potretmu, Negeriku Akan berubah mengikuti lajunya sang waktu Tetap saja Indonesia adalah seluas Nusantara Negara kepulauan yang termahsyur namanya Belahan bumi tersempurna yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita Dengan segala keragaman Menyatu dalam perbedaan Bersama menjalin indahnya kebinekaan

negiri INDONESIA

Suara langit tak pernah menepi, apalagi pergi Langkah kami anak negeri, juga tak pernah berhenti Kuasa tanpa asa bukanlah tersemat di tiap sanubari Hanya asa, kuasa yang ditopang sebuah harapan pada Bumi Pertiwi Titik-titik jejak bukannya beriring saat mentari pagi Bumi saksi kerasnya liku jalan kami, bahkan saat sang bulan kian meninggi Kapan bisa kurengkuh kebenaran, biar bisa mengabdi sepenuh hati? Menulis kisah tanpa guratan hitam korupsi Cinta kami seputih gumpalan pelangi Namun berbaur kotornya gradasi politik ini Suara-suara lantang datang menguji Perut-perut lapar tak ada yang peduli Tanah Air beta, rintihan anak negeri tersamarkan lagi Betapa cinta tunas-tunas bangsa lahir pada kami Semangat berapi-api berjuang dengan usaha sediri Belajar, alasan yang terus memotivasi Esok nanti, kamilah yang mengubah sejarah kisah Ibu Pertiwi Tangan kurus putra-putri dari seluruh penjuru negeri Bersatu merangkul ilmu, untukmu, Indonesia yang kami cintai Percayalah, bakti jiwa raga kami tetap: padamu, Negeri!

Rabu, 27 Maret 2013

letak hubungan kita

“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri” Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh. Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit. Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini. Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.

letak hubungan kita

“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri” Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh. Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit. Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini. Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.

letak hubungan kita

“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri” Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh. Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit. Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini. Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.

pekerjaan orang hebat

Jangan memupus ambisi orang. Karena itu pekerjaan orang kecil. Maka pekerjaan orang hebat adalah berusaha membuat orang-orang sehebat dirinya. Kali ini saya harus menyebut dua orang saudara; Shahdan dan Garry. Saya senang dengan mereka berdua dan insya Allah dapat mencintai mereka berdua. Alasannya sederhana. Mereka yang paling kuat berambisi dan yang paling sukar letih dalam berikhtiar. Karena seseorang yang bersungguh-sungguh adalah lebih baik dari orang yang lain. Memiliki sahabat yang bermimpi itu mengasyikan. Dan puncaknya ketika masing-masing capaian mereka siap dituai. Menjadi orang yang memiliki keinginan untuk memperoleh tempat yang terbaik di hadapan Allah itu sungguh menyenangkan. Karena tiap-tiap sela waktu kita diisi dengan usaha pencapaian yang berpahala. Setiap tarik dan hembusan napas kita dimanifestasikan dalam hal yang bermanfaat. Dan saya mendapati cita-cita mereka berdua seperti demikian. Laksana bibit berjuta pahala. Maka saya akan sangat senang apabila terlibat dalam pencapaiannya. Setiap orang memiliki cita, tiap cita harus diselimuti dengan usaha, tiap usaha mendapat rintangan, tiap rintangan adalah anak tangga, dan tiap anak tangga berujung pencapaian. Setiap yang berambisi menghadapi pelbagai kesulitan. Dan tugas kita di sini cukup mudah. Jangan menjadi hambatan bagi cita orang lain. Jangan pernah menjadi pemusnah impian, pemupus harapan. Karena keberadaan kita di sini untuk membangun, bukan meruntuhkan. Untuk ikut berbahagia saat sang sahabat bersorak senang atas pencapaiannya. Dan kerap ada waktu yang paling menggoda untuk menggoyah cita sahabat dengan lisan kita. Ketika kita memilih berkata “air di tempat ini sangat dingin” bukan “di tempat ini airnya menyejukkan” saat sahabat kita sedang bersemangat untuk berdiri tahajjud di malam hari. Ketika kita membuncahkan segala pengetahuan kita tentang pantangan-pantangan cita seseorang. Saat perkataan sombong kita hanya membuat nyali seseorang ciut. Saat pengalaman pahit kita menjadikan cita orang lain menjadi ancai. Membuat orang menjadi takut. Dan tidak ada alasan bagi kita untuk mengkritik impian orang lain sekalipun bagi kita adalah hal yang musykil. Dan janganlah cemburu dengan pencapaian orang lain. Banyak ditemukan kebiasaan buruk orang yang gagal mencapai cita adalah menanggalkan impian orang lain yang bercita sama. Kesombongan membuat orang tidak ingin melihat orang lain lebih baik. Ketika sahabat berhasil menunaikan shaum setiap senin dan kamis, yang ia lakukan bukan menyamai dan membersamai amalannya. Tetapi ia bersipayah menggoda agar orang lain bisa seburuk dirinya. Ia tidak suka dengan orang lain yang sedang konsisten mengejar cita agung dengan amal shalih. Karena mereka ingin menjadi yang paling tinggi, dengan menjatuhkan orang lain ke tempat yang lebih rendah. Maka pekerjaan kita bukan seperti orang kecil di atas. Kegelisahan kita tidak tampak ketika orang lain sedang bergembira. Tetapi kita bersama dengan mimpi dan harap mereka. Kita ikut bahagia ketika sang sahabat berhasil shalat di masjid lima waktu. Kita ikut bahagia ketika hati orang lain menggelora. Karena letak kebaikan kita di situ. Letak kebaikan kita berada saat membuat orang lain lebih baik dari kita. Dan kunjungilah mimpi-mimpi mereka dengan berkala. Karena boleh jadi satu waktu ikhtiar mereka melemah. Amalan mereka banyak meredup. Dan tugas kita datang sebagai api. Membarakan kembali.