ya alloh muliakan sahabat2 Q pelihara lah iman dan taqwanya hiasi mereka dengan cahaya kebesaranmu wahai alloh smoga mereka dapat menjadikan GHADHAL BAHSYAR sebagai hiasannya ya alloh teguhkan hati mereka jangan engkau semaikan Keraguan dalam hatinya jangan lah engkau taburkan kegalauan dalam batinnya ya alloh berrrrrrr...
Rabu, 27 Maret 2013
letak hubungan kita
“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri”
Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh.
Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki.
Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit.
Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini.
Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.
letak hubungan kita
“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri”
Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh.
Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki.
Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit.
Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini.
Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.
letak hubungan kita
“Kualitas hubungan kita dengan orang lain hanya dapat seberkualitas diri kita. Maka pereloklah diri kita sendiri”
Hari ini saya mendapat pelajaran baru. Untuk membawa orang lain menjadi sebernilai yang kita inginkan maka syarat utama yang harus tak lepas dari kita adalah setidaknya kita berada pada tahap nilai yang kita inginkan tersebut. Untuk menjadikan seseorang bisa bersepeda umpamanya maka yang harus kita miliki adalah keahlian mengayuh untuk bersepeda tanpa terjatuh.
Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki.
Pun masalah kenyamanan. Kita tidak bisa nyaman berhubungan dengan orang lain sebelum kita nyaman dengan diri kita sendiri. Maka kuncinya, perloklah, perindahlah, dandanilah segenap akhlak dan kepribadian anda hingga menjadi pribadi yang menawan. Karena hanya dengan itu anda dapat menjadikan orang yang dahulu redup menjadi benderang, yang dahulu serendah pijakan hingga dapat menyeruak ke lelangit.
Karena kita hanya dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain setelah kita dapat mengorbankan hal yang terbaik juga untuk kita sendiri. Jika yang terbaik yang ada pada diri kita tidak lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain maka akan sukar untuk membawa orang lain itu untuk lebih dari keadaannya saat ini.
Dari sini saya belajar, dari sini kita belajar. Bahwa isilah diri kita lebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya kebaikan adalah hal yang utama. Isilah dengan ilmu, keshalihan, amal dan pelbagai hal indah lainnya. Karena apa yang kita berikan kepada orang lain bergantung dengan apa yang kita miliki. Apabila diri kita hanya berisi lelimbah, maka siaplah untuk hanya menjadikan orang lain menjadi semakin berbau busuk, semakin bacin dan menggelisahkan. Namun sebaliknnya ketika dalam diri dan jiwa kita telah riuh dengan aneka kebaikan-kebaikan dan hikmah. Maka tunggulah semerbak wangi orang-orang di sekitar anda atas haruman yang telah anda sebar kepada mereka.
pekerjaan orang hebat
Jangan memupus ambisi orang. Karena itu pekerjaan orang kecil. Maka pekerjaan orang hebat adalah berusaha membuat orang-orang sehebat dirinya.
Kali ini saya harus menyebut dua orang saudara; Shahdan dan Garry. Saya senang dengan mereka berdua dan insya Allah dapat mencintai mereka berdua. Alasannya sederhana. Mereka yang paling kuat berambisi dan yang paling sukar letih dalam berikhtiar. Karena seseorang yang bersungguh-sungguh adalah lebih baik dari orang yang lain.
Memiliki sahabat yang bermimpi itu mengasyikan. Dan puncaknya ketika masing-masing capaian mereka siap dituai. Menjadi orang yang memiliki keinginan untuk memperoleh tempat yang terbaik di hadapan Allah itu sungguh menyenangkan. Karena tiap-tiap sela waktu kita diisi dengan usaha pencapaian yang berpahala. Setiap tarik dan hembusan napas kita dimanifestasikan dalam hal yang bermanfaat. Dan saya mendapati cita-cita mereka berdua seperti demikian. Laksana bibit berjuta pahala. Maka saya akan sangat senang apabila terlibat dalam pencapaiannya.
Setiap orang memiliki cita, tiap cita harus diselimuti dengan usaha, tiap usaha mendapat rintangan, tiap rintangan adalah anak tangga, dan tiap anak tangga berujung pencapaian. Setiap yang berambisi menghadapi pelbagai kesulitan. Dan tugas kita di sini cukup mudah. Jangan menjadi hambatan bagi cita orang lain. Jangan pernah menjadi pemusnah impian, pemupus harapan. Karena keberadaan kita di sini untuk membangun, bukan meruntuhkan. Untuk ikut berbahagia saat sang sahabat bersorak senang atas pencapaiannya.
Dan kerap ada waktu yang paling menggoda untuk menggoyah cita sahabat dengan lisan kita. Ketika kita memilih berkata “air di tempat ini sangat dingin” bukan “di tempat ini airnya menyejukkan” saat sahabat kita sedang bersemangat untuk berdiri tahajjud di malam hari. Ketika kita membuncahkan segala pengetahuan kita tentang pantangan-pantangan cita seseorang. Saat perkataan sombong kita hanya membuat nyali seseorang ciut. Saat pengalaman pahit kita menjadikan cita orang lain menjadi ancai. Membuat orang menjadi takut. Dan tidak ada alasan bagi kita untuk mengkritik impian orang lain sekalipun bagi kita adalah hal yang musykil.
Dan janganlah cemburu dengan pencapaian orang lain. Banyak ditemukan kebiasaan buruk orang yang gagal mencapai cita adalah menanggalkan impian orang lain yang bercita sama. Kesombongan membuat orang tidak ingin melihat orang lain lebih baik. Ketika sahabat berhasil menunaikan shaum setiap senin dan kamis, yang ia lakukan bukan menyamai dan membersamai amalannya. Tetapi ia bersipayah menggoda agar orang lain bisa seburuk dirinya. Ia tidak suka dengan orang lain yang sedang konsisten mengejar cita agung dengan amal shalih. Karena mereka ingin menjadi yang paling tinggi, dengan menjatuhkan orang lain ke tempat yang lebih rendah.
Maka pekerjaan kita bukan seperti orang kecil di atas. Kegelisahan kita tidak tampak ketika orang lain sedang bergembira. Tetapi kita bersama dengan mimpi dan harap mereka. Kita ikut bahagia ketika sang sahabat berhasil shalat di masjid lima waktu. Kita ikut bahagia ketika hati orang lain menggelora. Karena letak kebaikan kita di situ. Letak kebaikan kita berada saat membuat orang lain lebih baik dari kita.
Dan kunjungilah mimpi-mimpi mereka dengan berkala. Karena boleh jadi satu waktu ikhtiar mereka melemah. Amalan mereka banyak meredup. Dan tugas kita datang sebagai api. Membarakan kembali.
pekerjaan orang hebat
Jangan memupus ambisi orang. Karena itu pekerjaan orang kecil. Maka pekerjaan orang hebat adalah berusaha membuat orang-orang sehebat dirinya.
Kali ini saya harus menyebut dua orang saudara; Shahdan dan Garry. Saya senang dengan mereka berdua dan insya Allah dapat mencintai mereka berdua. Alasannya sederhana. Mereka yang paling kuat berambisi dan yang paling sukar letih dalam berikhtiar. Karena seseorang yang bersungguh-sungguh adalah lebih baik dari orang yang lain.
Memiliki sahabat yang bermimpi itu mengasyikan. Dan puncaknya ketika masing-masing capaian mereka siap dituai. Menjadi orang yang memiliki keinginan untuk memperoleh tempat yang terbaik di hadapan Allah itu sungguh menyenangkan. Karena tiap-tiap sela waktu kita diisi dengan usaha pencapaian yang berpahala. Setiap tarik dan hembusan napas kita dimanifestasikan dalam hal yang bermanfaat. Dan saya mendapati cita-cita mereka berdua seperti demikian. Laksana bibit berjuta pahala. Maka saya akan sangat senang apabila terlibat dalam pencapaiannya.
Setiap orang memiliki cita, tiap cita harus diselimuti dengan usaha, tiap usaha mendapat rintangan, tiap rintangan adalah anak tangga, dan tiap anak tangga berujung pencapaian. Setiap yang berambisi menghadapi pelbagai kesulitan. Dan tugas kita di sini cukup mudah. Jangan menjadi hambatan bagi cita orang lain. Jangan pernah menjadi pemusnah impian, pemupus harapan. Karena keberadaan kita di sini untuk membangun, bukan meruntuhkan. Untuk ikut berbahagia saat sang sahabat bersorak senang atas pencapaiannya.
Dan kerap ada waktu yang paling menggoda untuk menggoyah cita sahabat dengan lisan kita. Ketika kita memilih berkata “air di tempat ini sangat dingin” bukan “di tempat ini airnya menyejukkan” saat sahabat kita sedang bersemangat untuk berdiri tahajjud di malam hari. Ketika kita membuncahkan segala pengetahuan kita tentang pantangan-pantangan cita seseorang. Saat perkataan sombong kita hanya membuat nyali seseorang ciut. Saat pengalaman pahit kita menjadikan cita orang lain menjadi ancai. Membuat orang menjadi takut. Dan tidak ada alasan bagi kita untuk mengkritik impian orang lain sekalipun bagi kita adalah hal yang musykil.
Dan janganlah cemburu dengan pencapaian orang lain. Banyak ditemukan kebiasaan buruk orang yang gagal mencapai cita adalah menanggalkan impian orang lain yang bercita sama. Kesombongan membuat orang tidak ingin melihat orang lain lebih baik. Ketika sahabat berhasil menunaikan shaum setiap senin dan kamis, yang ia lakukan bukan menyamai dan membersamai amalannya. Tetapi ia bersipayah menggoda agar orang lain bisa seburuk dirinya. Ia tidak suka dengan orang lain yang sedang konsisten mengejar cita agung dengan amal shalih. Karena mereka ingin menjadi yang paling tinggi, dengan menjatuhkan orang lain ke tempat yang lebih rendah.
Maka pekerjaan kita bukan seperti orang kecil di atas. Kegelisahan kita tidak tampak ketika orang lain sedang bergembira. Tetapi kita bersama dengan mimpi dan harap mereka. Kita ikut bahagia ketika sang sahabat berhasil shalat di masjid lima waktu. Kita ikut bahagia ketika hati orang lain menggelora. Karena letak kebaikan kita di situ. Letak kebaikan kita berada saat membuat orang lain lebih baik dari kita.
Dan kunjungilah mimpi-mimpi mereka dengan berkala. Karena boleh jadi satu waktu ikhtiar mereka melemah. Amalan mereka banyak meredup. Dan tugas kita datang sebagai api. Membarakan kembali.
membalas air tuba dengan air susu
Tugas kita, membalas air tuba dengan air susu
Perselisihan akan sulit untuk usai ketika kita berada dalam pihak yang benar. Mengapa? Karena dalam posisi yang ini, mengalah menjadi hal yang berat. Meminta maaf tanpa memiliki kesalahan menjadikan diri kita risau. Berpikir bahwa harga diri akan merosot terambau kala mengalah tanpa salah membuat hati kita melayang angkuh. Menjadikan perselisihan semakin berumur.
Tetapi di sinilah seharusnya seorang muslim bertaji. Menunjukkan diri yang memang layak menahan gelombang nafsu. Untuk tidak angkuh, untuk tidak sombong, untuk tidak meninggi di hadapan sang asor yang kalah. Karena seribu bukti yang menyatakan kesalahan si pecundang takkan berdaya apa. Takkan menyelesaikan perselisihan yang timpang. Hanya akan menyembilu hati dan menghasilkan luka abadi dan cena. Karena seribu bukti yang memenangkan kita takkan menjadikan tali persaudaraan terikat erat. Menuntaskan perselisihan dengan cara yang kasar. Terlihat lembut namun tetap terasa kasar, seperti cual. Hanya menjadikan kita seperti mengawang padahal menginjak rendah orang lain.
Maka iman seorang muslim hadir di sini untuk melawan gejolak nafsu yang bergas. Karena ia yang berdaya untuk mengalah dalam kemenangan. Karena ia yang sanggup meminta maaf saat tidak mengemban cela. Karena ia yang berani menunduk rengkuh di depan orang salah yang meninggi. Karena orang beriman yang berdaya. Untuk tidak menyidang salah dengan seribu bukti nyata dan memilih menyungging senyum mengambau rendah. Karena ia yakin jalan inilah yang menyelesaikan pertikaian dengan cara yang elok. Yang bukan hanya menuntaskan pertikaian bahkan membangun peradaban cinta di kedua hati.
Dan bagi seorang muslim cela orang menjadi kesempatan. Dosa seseorang menjadi tanaman gagah berbuah aneka pahala. Karena ia bisa menuai pahala sebanyak-banyaknya. Ia bisa memohonkan ampunan untuk orang yang lallim padanya. Ia bisa meminta maaf atau menawarkannya. Ia berdaya untuk membuat hati yang gelisah bersalah menjadi mendekat hangat. Karena seorang muslim memiliki senjata andalan; iman. Dengannya gejolak nafsu untuk meninggi mengerdil. Dengannya rasa ujub menjadi sirna ancai.
Lebih dari itu mengalah memberikan akibat yang lebih indah. Membalas satu kesalahan orang dengan dua kebaikan berdampak istimewa. Menjadikan dua hati yang membenci jadi mencinta. Menjadikan dua batin yang berseteru gelisah menjadi indah terikat ukhuwah.
"Sambunglah orang yang memutuskanmu, berilah makan orang yang bakhil terhadapmu, dan berilah maaf orang yang berbuat zhalim terhadapmu." (Al-Hadits)
membalas air tuba dengan air susu
Tugas kita, membalas air tuba dengan air susu
Perselisihan akan sulit untuk usai ketika kita berada dalam pihak yang benar. Mengapa? Karena dalam posisi yang ini, mengalah menjadi hal yang berat. Meminta maaf tanpa memiliki kesalahan menjadikan diri kita risau. Berpikir bahwa harga diri akan merosot terambau kala mengalah tanpa salah membuat hati kita melayang angkuh. Menjadikan perselisihan semakin berumur.
Tetapi di sinilah seharusnya seorang muslim bertaji. Menunjukkan diri yang memang layak menahan gelombang nafsu. Untuk tidak angkuh, untuk tidak sombong, untuk tidak meninggi di hadapan sang asor yang kalah. Karena seribu bukti yang menyatakan kesalahan si pecundang takkan berdaya apa. Takkan menyelesaikan perselisihan yang timpang. Hanya akan menyembilu hati dan menghasilkan luka abadi dan cena. Karena seribu bukti yang memenangkan kita takkan menjadikan tali persaudaraan terikat erat. Menuntaskan perselisihan dengan cara yang kasar. Terlihat lembut namun tetap terasa kasar, seperti cual. Hanya menjadikan kita seperti mengawang padahal menginjak rendah orang lain.
Maka iman seorang muslim hadir di sini untuk melawan gejolak nafsu yang bergas. Karena ia yang berdaya untuk mengalah dalam kemenangan. Karena ia yang sanggup meminta maaf saat tidak mengemban cela. Karena ia yang berani menunduk rengkuh di depan orang salah yang meninggi. Karena orang beriman yang berdaya. Untuk tidak menyidang salah dengan seribu bukti nyata dan memilih menyungging senyum mengambau rendah. Karena ia yakin jalan inilah yang menyelesaikan pertikaian dengan cara yang elok. Yang bukan hanya menuntaskan pertikaian bahkan membangun peradaban cinta di kedua hati.
Dan bagi seorang muslim cela orang menjadi kesempatan. Dosa seseorang menjadi tanaman gagah berbuah aneka pahala. Karena ia bisa menuai pahala sebanyak-banyaknya. Ia bisa memohonkan ampunan untuk orang yang lallim padanya. Ia bisa meminta maaf atau menawarkannya. Ia berdaya untuk membuat hati yang gelisah bersalah menjadi mendekat hangat. Karena seorang muslim memiliki senjata andalan; iman. Dengannya gejolak nafsu untuk meninggi mengerdil. Dengannya rasa ujub menjadi sirna ancai.
Lebih dari itu mengalah memberikan akibat yang lebih indah. Membalas satu kesalahan orang dengan dua kebaikan berdampak istimewa. Menjadikan dua hati yang membenci jadi mencinta. Menjadikan dua batin yang berseteru gelisah menjadi indah terikat ukhuwah.
"Sambunglah orang yang memutuskanmu, berilah makan orang yang bakhil terhadapmu, dan berilah maaf orang yang berbuat zhalim terhadapmu." (Al-Hadits)
Langganan:
Postingan (Atom)